METRO, rawasnews-tv.com – Kota Metro bersiap menjadi panggung perayaan musik rock sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan. Roy Jeconiah, mantan vokalis Boomerang yang dikenal dengan karakter vokal khasnya, dijadwalkan tampil dalam Metro Rock Festival (MRF) pada 14 November 2026 di Lapangan Mulyojati, Metro Barat. Menariknya, festival ini terbuka gratis bagi masyarakat.
Namun, hajatan ini bukan sekadar menghadirkan raungan gitar, gebukan drum, dan nostalgia musik rock. Di balik kemeriahan panggung, tersimpan misi yang lebih besar: mendongkrak kunjungan wisata, menghidupkan suasana kota, serta membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Digelar bersamaan dengan Metro Culinary Festival, kegiatan ini diharapkan menjadi magnet baru yang mempertemukan penikmat musik, komunitas, wisatawan, dan pelaku usaha lokal dalam satu ruang perayaan.
Kegiatan tersebut merupakan kerja sama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama Hj. Chusnia Chalim, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, dengan Lebah Organizer sebagai fasilitator penyelenggaraan.
Panitia penyelenggara dari Lebah Organizer, Anna Morinda, mengatakan kedua festival dirancang untuk menarik masyarakat dari berbagai daerah agar datang dan menikmati potensi Kota Metro.
“14 November 2026, Lebah Organizer sebagai fasilitator dari Kementerian Pariwisata akan mengadakan dua festival di satu tempat yang sama, Metro Rock Festival dengan bintangnya Roy Jeconiah atau Jecovox,” ujar Anna kepada awak media, Senin (19/10/2026).
Keputusan membuka festival secara gratis menjadi salah satu daya tarik utama. Masyarakat dapat menikmati hiburan tanpa terbebani tiket masuk, sementara penyelenggara berharap besarnya antusiasme pengunjung turut menciptakan perputaran ekonomi bagi warga.
Anna menegaskan, kehadiran Roy Jeconiah diharapkan tidak hanya memuaskan kerinduan penggemar musik rock, tetapi juga membawa dampak positif bagi pariwisata dan pelaku UMKM.
“Ini gratis, dan kita berharap dengan kehadiran Roy Jeconiah di Kota Metro berdampak pada peningkatan ekonomi, meningkatkan visit Metro dan meningkatkan UKM yang juga akan hadir di sana dalam Metro Culinary Festival,” katanya.
Harapan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Sebab, ramainya penonton belum tentu otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika tidak diikuti pengelolaan kegiatan yang berpihak pada pelaku usaha lokal. Karena itu, Metro Culinary Festival menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian kegiatan ini.
Tak hanya menyuguhkan hiburan musik, Metro Culinary Festival direncanakan menghadirkan ratusan jajanan dan produk UMKM untuk meramaikan lokasi acara.
Bagi pelaku usaha kecil, festival semacam ini membuka kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen baru, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan peluang penjualan.
Jika dikelola secara optimal, keramaian pengunjung dapat memberikan efek berantai bagi perekonomian lokal. Pedagang makanan, pelaku kuliner, produsen makanan olahan, hingga usaha kecil lainnya berpotensi ikut merasakan manfaat dari meningkatnya aktivitas masyarakat. Panggung boleh menjadi pusat perhatian, tetapi manfaat ekonomi harus ikut dirasakan warga.
Inilah yang semestinya menjadi ukuran keberhasilan sebuah festival: bukan hanya seberapa keras musik bergema atau seberapa padat penonton memenuhi lapangan, melainkan seberapa besar peluang usaha yang tercipta dan seberapa luas manfaat yang diterima masyarakat.
Kehadiran Metro Rock Festival dan Metro Culinary Festival memperlihatkan bagaimana hiburan dapat dipadukan dengan promosi pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Musik memiliki daya tarik lintas generasi. Sementara itu, kuliner dan produk UMKM menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika keduanya dipertemukan, festival berpotensi menjadi ruang interaksi yang mempertemukan komunitas, pengunjung dari luar daerah, pelaku usaha, dan masyarakat setempat.
Bagi Kota Metro, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus memperkuat citra kota sebagai ruang yang terbuka bagi kegiatan kreatif dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun, potensi tersebut tetap membutuhkan perencanaan yang matang agar manfaatnya tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan keramaian berakhir. Anna menyebut Lapangan Mulyojati, Metro Barat, direncanakan menjadi lokasi penyelenggaraan kedua festival tersebut.
Ia juga mengapresiasi dukungan Wali Kota Metro yang diterima saat audiensi serta dukungan Dinas Pariwisata Kota Metro terhadap rencana kegiatan. Meski demikian, persiapan masih berlangsung, termasuk pengurusan rekomendasi yang diperlukan untuk penyelenggaraan acara.
“Dinas Pariwisata Kota Metro juga memberikan dukungan yang luar biasa. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan nanti setelah rekomendasinya keluar, semoga mendapat support dari berbagai pihak terkait,” ungkap Anna.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dukungan lintas pihak menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan kegiatan yang tertib dan memberikan manfaat luas.
Di sisi lain, kepastian perizinan, keamanan dan kenyamanan pengunjung, pengelolaan sampah, penataan lapak pedagang, serta akses bagi masyarakat perlu menjadi perhatian serius.
Kesiapan teknis juga harus sejalan dengan komitmen pemberdayaan UMKM agar pelaku usaha lokal memperoleh kesempatan yang layak untuk berpartisipasi.
Dengan demikian, festival ini tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kegiatan kreatif yang memberikan nilai tambah bagi Kota Metro.
Anna berharap Metro Rock Festival dan Metro Culinary Festival dapat menghadirkan semangat baru bagi masyarakat di tengah berbagai tantangan kehidupan. “Dalam kesulitan hari ini, makanya kita hadirkan musik, tapi kita butuh dukungan dari semuanya,” katanya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa hiburan bukan semata-mata pelarian dari persoalan sehari-hari. Jika dirancang dengan baik, kegiatan publik juga dapat membuka ruang kebersamaan, memperluas kesempatan ekonomi, dan menghidupkan kreativitas masyarakat.
Dukungan pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi penting agar tujuan tersebut dapat diwujudkan secara nyata.
Pada akhirnya, keberhasilan Metro Rock Festival tidak cukup diukur dari kehadiran Roy Jeconiah atau besarnya antusiasme penonton. Dampak terhadap kunjungan wisata, peluang usaha, kebersihan lingkungan, serta manfaat yang dirasakan pelaku UMKM juga patut menjadi perhatian.
Pada 14 November 2026, penggemar Roy Jeconiah dan komunitas Jecovox diharapkan berkumpul di Lapangan Mulyojati, Metro Barat, untuk menyaksikan Metro Rock Festival yang direncanakan berlangsung gratis bagi masyarakat.
Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, festival ini berpeluang menjadi momentum untuk menggabungkan energi musik rock dengan semangat ekonomi kerakyatan. Satu panggung untuk musik, satu festival untuk kuliner, dan satu harapan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Kini, tantangannya adalah memastikan seluruh rencana tersebut terwujud dengan baik, sehingga kemeriahan yang tercipta bukan hanya meninggalkan gema musik, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi Kota Metro dan warganya. (*)


















