Oleh: Purwadi Ardi
ADA KISAH dalam dunia jurnalistik yang tidak selesai hanya dengan sebuah berita. Ada perjalanan yang bermula dari tugas peliputan, tetapi berujung menjadi penantian panjang di tengah kecemasan. Ada seorang jurnalis yang berangkat membawa kamera, alat tulis, dan tanggung jawab profesi, namun kemudian kabarnya terputus di tengah perjalanan.
Di situlah dunia jurnalistik kembali mengingatkan kita, bahwa di balik setiap berita, selalu ada manusia. Jurnalis bukan manusia yang kebal terhadap bahaya.
Mereka memiliki keluarga yang menunggu kepulangan, sahabat yang berharap kabar, dan orang-orang terdekat yang mungkin hanya ingin mendengar satu kalimat sederhana: “Saya baik-baik saja.”
Namun, demi mendapatkan fakta dari lapangan, tidak jarang seorang jurnalis harus mendatangi tempat-tempat yang penuh risiko. Gunung, laut, bencana, konflik, kriminalitas, hingga wilayah yang sulit dijangkau menjadi bagian dari medan kerja. Mereka hadir ketika sebagian orang memilih menjauh.
KINI KABAR MEMILUKAN DATANG DARI PERAIRAN SELAT SUNDA
Rombongan lima jurnalis yang bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026, untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau dilaporkan hilang kontak.
Mereka berangkat menggunakan kapal motor speedboat bersama kapten Warta, 55 tahun, anak buah kapal Surakman, 60 tahun, serta pemandu Heriyanto, 49 tahun.
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah, M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, dan Donal, wartawan lepas.
Komunikasi terakhir diketahui terjadi sekitar pukul 14.42 WIB. Salah satu anggota rombongan sempat mengirimkan lokasi terakhir kepada rekannya. Kemudian, sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi terputus.
Sesederhana itu sebuah perjalanan jurnalistik berubah menjadi kecemasan. Dari sebuah lokasi yang sebelumnya menjadi titik koordinasi, tiba-tiba muncul pertanyaan besar:
DI MANA MEREKA SEKARANG ?
“Pertanyaan tersebut bukan hanya milik keluarga. “Ia menjadi pertanyaan seluruh insan pers. “Ia menjadi kegelisahan teman-teman seprofesi. Dan ia menjadi doa masyarakat yang berharap lima jurnalis tersebut ditemukan dalam keadaan selamat.”
Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten menerima laporan hilang kontak pada Selasa, 8 September 2026 pukul 13.55 WIB dari Bayu, jurnalis Antara.
Upaya pencarian kemudian dilakukan. Unit Siaga SAR Pandeglang bergerak menuju lokasi keberangkatan dan memberangkatkan satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB).
Basarnas bersama kepolisian kemudian menyisir wilayah yang diduga menjadi titik terakhir komunikasi. Kapal KN Tetuka juga dikerahkan untuk memperkuat pencarian.
Sebanyak 54 personel gabungan yang terdiri dari unsur SAR, kepolisian, TNI, nelayan, serta masyarakat ikut terlibat. Namun hingga pencarian pada Selasa sore, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan rombongan tersebut.
Pencarian dilakukan di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang dengan radius sekitar 3,2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Sementara itu, kondisi alam tidak sepenuhnya bersahabat.
Cuaca dilaporkan cerah berawan, angin bergerak dari selatan ke utara dengan kecepatan sekitar 16,7 knot. Tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter. Di sekitar wilayah tersebut juga terdapat sebaran abu vulkanik dengan jarak pandang sekitar satu mil.
LAUT MEMANG TIDAK PERNAH BISA DIAJAK BERKOMPROMI
“Ia bisa terlihat tenang dari kejauhan, tetapi menyimpan ketidakpastian di bawah permukaannya. Dan Gunung Anak Krakatau bukan sekadar objek berita. “Ia adalah kawasan vulkanik yang harus didekati dengan kewaspadaan tinggi.
Di tempat seperti itulah seorang jurnalis bekerja: berdiri di antara tuntutan mendapatkan fakta dan kewajiban menjaga keselamatan. Tetapi ketika sebuah rombongan jurnalis hilang kontak, yang tersisa bukan lagi sekadar urusan pekerjaan.
YANG TERSISA ADALAH HARAPAN
“Harapan agar mesin kapal masih bisa ditemukan. Harapan agar jejak perjalanan mereka masih dapat dilacak. Harapan agar tim pencarian menemukan titik terang.”
Dan yang paling utama, harapan agar kelima jurnalis tersebut kembali kepada keluarga dan orang-orang yang mencintainya.
LIMA KEHIDUPAN YANG SAAT INI SEDANG DINANTIKAN KEPULANGANNYA
Di tengah derasnya arus informasi dan kecepatan berita hari ini, jangan sampai kita lupa bahwa di balik sebuah berita terdapat manusia yang mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan keselamatannya untuk menghadirkan informasi kepada publik.
“Jurnalisme memang membutuhkan keberanian. Tetapi keberanian tidak boleh dimaknai sebagai mengabaikan keselamatan.”
Peristiwa ini seharusnya menjadi momentum untuk kembali bertanya: seberapa siap ekosistem jurnalistik kita melindungi para pekerja pers ketika mereka menjalankan tugas di medan berisiko?
Apakah setiap peliputan di wilayah laut, gunung, bencana, konflik, dan lokasi berbahaya telah disertai prosedur keselamatan yang memadai? Apakah komunikasi darurat telah disiapkan? Apakah peralatan keselamatan benar-benar tersedia dan berfungsi?
PERTANYAAN-PERTANYAAN ITU PENTING
Bukan untuk mencari siapa yang salah ketika situasi belum diketahui secara pasti. Tetapi agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Hari ini, yang paling utama bukan spekulasi. Bukan pula kesimpulan yang terburu-buru. Yang paling utama adalah pencarian.
“Setiap menit sangat berarti.
Setiap informasi sangat berharga.
Setiap kemungkinan harus ditelusuri.
Dan setiap doa layak dipanjatkan.”
Kita berharap pencarian yang dilakukan Basarnas bersama TNI, Polri, nelayan, dan masyarakat membuahkan kabar baik. Kita berharap laut Selat Sunda segera mengembalikan jejak mereka.
Kita berharap lima nama itu kembali menjadi kabar yang menenangkan, bukan sekadar nama yang dikenang dalam kesedihan.
Sebab seorang jurnalis boleh pergi mengejar berita. Tetapi selalu ada seseorang yang menunggu ia pulang.
SATU PENA TELAH BERANGKAT MENCARI FAKTA
Kini, satu doa mengiringi pencarian mereka. Semoga Selat Sunda memberikan kabar baik. Semoga kelima jurnalis itu ditemukan dalam keadaan selamat.
Dan semoga mereka segera kembali kepada keluarga, kepada rekan-rekan, dan kepada dunia jurnalistik yang sedang menunggu dengan penuh harap. Karena di balik setiap berita, ada manusia. Dan manusia selalu lebih berharga daripada berita apa pun.


















