Kota Metro, rawasnews-tv.com – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, membuka Kegiatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sekaligus meresmikan Gedung Asrama Putra Abu Bakar As-Siddiq MAN 1 Metro, sebagai bagian dari transformasi paradigma pendidikan keagamaan menuju sistem yang moderat, humanis, dan bermakna.
Kurikulum Berbasis Cinta dirancang sebagai pendekatan baru pendidikan Indonesia untuk memperkuat moderasi beragama, mencegah fanatisme dan intoleransi, serta membangun karakter bangsa melalui nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, ilmu pengetahuan, lingkungan, dan tanah air.
Kurikulum ini menempatkan pendidikan agama bukan sebagai ruang doktrinasi, melainkan sebagai ruang pemanusiaan dan pemersatu dalam keberagaman.
“Kita ingin pendidikan agama tidak lagi menjadi sumber kecurigaan dan perpecahan, tetapi menjadi kekuatan pemersatu. Kurikulum Berbasis Cinta menanamkan kecintaan pada perbedaan, tanggung jawab ekologis, dan nilai kemanusiaan universal,” ujar Zulkarnain, Senin 12 Januari 2026.
“Ia menegaskan, bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dikembangkan sejalan dengan pendekatan deep learning, meaningful learning, dan joyful learning.
“Dalam ilmu agama kita mengenal syariat dan hakikat. Anak-anak tidak cukup hanya menghafal aturan, tetapi harus memahami makna dan merasakannya dalam kehidupan. Inilah deep learning. Ketika pembelajaran itu memberi makna, itu menjadi meaningful learning, dan ketika dijalani dengan kegembiraan, itulah joyful learning,” jelasnya.

Menurut Zulkarnain, pendidikan yang hanya berorientasi pada hafalan dan nilai rapor tidak akan melahirkan generasi berkarakter. Kurikulum Berbasis Cinta justru mendorong peserta didik mencintai proses belajar, sesama manusia, dan kehidupan itu sendiri.
Keberhasilan KBC, lanjutnya, sangat ditentukan oleh peran guru sebagai teladan. Anak didik adalah investasi terbesar orang tua dan bangsa, sehingga guru memikul tanggung jawab membangun generasi yang cerdas intelektual, matang secara emosional, peduli secara sosial, dan kuat secara spiritual. “Kecerdasan intelektual penting, tetapi tanpa akhlak, ilmu kehilangan arah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Zulkarnain juga menegaskan empat larangan mutlak dalam dunia pendidikan: kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, serta segala bentuk kekerasan lainnya termasuk pembiaran dan perundungan.
“Setiap anak didik adalah pribadi yang istimewa. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan dalam pendidikan,” ujarnya.
Selain membangun karakter dan relasi sosial, KBC juga menanamkan cinta terhadap lingkungan sebagai bagian dari pendidikan keagamaan yang utuh. Nilai ini sejalan dengan pendekatan ekoteologi, yang menempatkan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual manusia.
Sebagai wujud nyata, Kakanwil meresmikan Gedung Asrama Putra Abu Bakar As-Siddiq MAN 1 Metro dan melakukan penanaman pohon di lingkungan madrasah. (Red)


















