Kelompok Tani Sri Rezeki II Metro Pusat Gelar Gropyokan Tikus, Tekan Ancaman Gagal Panen

Kota Metro, rawasnews-tv.com – Hama tikus kembali menjadi ancaman serius bagi para petani di Kelurahan Metro, Kecamatan Metro Pusat Kota Metro. Namun, warga tidak tinggal diam, mereka bersama-sama dalam kegiatan gropyokan tikus yang melibatkan puluhan anggota kelompok tani Sri Rezeki II bersama Koordinator Penyuluh (Korlu) setempat.

Ketua kelompok tani Sri Rezeki II, Margiyono mengatakan, puluhan warga dari kelompok tani Sri Rezeki II melakukan gropyokan tikus dengan metode emposan. Mereka membawa sejumlah pentungan, dan juga belerang yang di dekatkan di lubang tikus selanjutnya dibakar dengan api dari gas LPG.

Metode ini dipilih, karena dinilai lebih aman dibandingkan jebakan listrik yang seringkali menimbulkan korban jiwa. Gropyokan tikus terus dilakukan oleh kelompok petani Sri Rezeki II. Hal ini bertujuan, untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga ketahanan pangan,” kata Margiyono kepada awak media, Minggu 24 Mai 2026.

“Ia menambahkan, sebagai Ketua kelompok tani, dirinya memiliki tanggung jawab untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian. Pihaknya pun berkolaborasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), guna membangkitkan kembali semangat petani dalam mengolah lahan dan mendorong agar petani kembali bersemangat untuk mengolah lahan pertanian.

Gropyokan tikus dilakukan secara gotong royong oleh anggota kelompok tani Sri Rezeki II dan masyarakat. Menurutnya, gerakan ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan di tingkat lokal. “Kami ingin meningkatkan produksi padi dan ketahanan pangan dengan cara ramah lingkungan,” tutup Margiyono.

Di tempat terpisah, Heri Kuncoro selaku Korlu membenarkan, bahwa kelompok tani Sri Rezeki II menggelar gropyokan tikus. Ia menyampaikan apresiasi kepada kelompok tani Sri Rezeki II dan warga yang telah membantu upaya pemerintah dalam pengendalian hama tikus.

“Ia berharap, kegiatan serupa dilakukan secara serempak di berbagai wilayah. Kalau dilakukan per wilayah dan tidak serempak, mungkin tikus yang tidak tertangkap hanya berpindah tempat,” ungkapnya.

Menurut Heri Kuncoro menambahkan, bahwa penanggulangan populasi tikus memerlukan koordinasi dan integritas lintas sektoral agar hasilnya maksimal. Melalui gerakan gropyokan dan pengendalian terpadu ini, para petani berharap produksi padi kembali meningkat dan kesejahteraan keluarga petani di Metro Pusat dapat terjaga,” pungkas Heri Kuncoro. (Advertorial)